Diskusi Ilmiah Neurologi UGM–Sardjito Soroti Peran EEG dalam Deteksi Dini Status Epileptikus
FKKMK UGM bersama RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan diskusi ilmiah bertajuk “The Signature of EEG Pattern as an Early Detection of Convulsive Status Epilepticus” pada Rabu, 25 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini menggabungkan diskusi luring di Neurology Basement RS Sardjito dan partisipasi daring dari berbagai institusi di Indonesia. Forum ini menyoroti peran krusial electroencephalography (EEG)—khususnya long-term EEG monitoring—dalam mendeteksi secara dini convulsive status epilepticus (CSE), salah satu kegawatdaruratan neurologis yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen hingga kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Pembelajaran Berbasis Kasus: Dari “Bahasa Listrik” Otak ke Keputusan Klinis
Berbeda dari diskusi akademik konvensional, kegiatan ini dirancang dengan pendekatan case-based learning. Peserta tidak hanya menerima paparan teori, tetapi juga mengikuti pembahasan kasus pasien secara langsung, termasuk peninjauan rekaman EEG aktual dari pemantauan jangka panjang. Melalui pemantauan berkelanjutan tersebut, peserta diajak memahami dinamika perubahan pola listrik otak dari fase interiktal hingga ictal. Diskusi menekankan bahwa “signature EEG” tertentu dapat menjadi penanda awal terjadinya status epileptikus, baik konvulsif maupun non-konvulsif, bahkan sebelum manifestasi klinis tampak berat. Pendekatan ini menegaskan bahwa EEG bukan sekadar alat konfirmasi diagnosis, melainkan instrumen penting dalam pengambilan keputusan klinis yang cepat dan presisi—terutama di ruang gawat darurat dan unit perawatan intensif neurologi. Upaya peningkatan ketepatan diagnosis dan percepatan tata laksana ini secara langsung berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit neurologis serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan esensial.
Paparan Pakar dan Diskusi Hybrid Nasional
Diskusi dipimpin oleh Astri Budikayanti, Sp.N, Subsp. ENK(K), President PERPEI sekaligus Senior Epileptologist dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Dalam pemaparannya, dr. Astri menekankan bahwa interpretasi EEG pada status epileptikus harus selalu dikaitkan dengan konteks klinis pasien, termasuk durasi aktivitas epileptiform, respons terhadap terapi, serta potensi interaksi obat. Kesalahan interpretasi dapat berdampak pada keterlambatan maupun ketidaktepatan tata laksana. Diskusi berlangsung aktif dan dua arah, baik dari peserta luring maupun daring. Format hybrid memungkinkan pertukaran perspektif lintas pusat layanan epilepsi di Indonesia, memperluas akses pendidikan dan memperkuat jejaring akademik nasional. Model pembelajaran seperti ini mencerminkan implementasi SDG 4: Quality Education, melalui pendidikan kedokteran berkelanjutan yang aplikatif, berbasis kasus nyata, dan memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau peserta secara luas.
Integrasi Inovasi Teknologi dalam Pelayanan Neurologi
Pemanfaatan long-term EEG dan video-EEG monitoring dalam forum akademik ini juga menunjukkan penguatan infrastruktur diagnostik neurologi. Integrasi teknologi pemantauan berkelanjutan dengan analisis klinis real-time mencerminkan transformasi pelayanan berbasis data dan presisi. Hal ini selaras dengan SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure, yang mendorong adopsi inovasi dan penguatan infrastruktur kesehatan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Diskusi ini menjadi contoh konkret bagaimana teknologi tidak hanya digunakan dalam praktik klinis, tetapi juga diintegrasikan dalam proses pembelajaran dan peningkatan kompetensi tenaga medis.
Kolaborasi untuk Penguatan Layanan Epilepsi Nasional
Kolaborasi antara FKKMK UGM, RSUP Dr. Sardjito, dan PERPEI mencerminkan sinergi lintas institusi dalam pengembangan ilmu dan pelayanan epilepsi di Indonesia. Kemitraan ini memperkuat standardisasi interpretasi EEG, memperluas jejaring keilmuan, serta mendorong peningkatan kualitas tata laksana pasien epilepsi secara nasional—sejalan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Menuju Deteksi Dini dan Tata Laksana yang Lebih Presisi
Diskusi ilmiah ini menegaskan bahwa deteksi dini convulsive status epilepticus tidak hanya bergantung pada pengamatan klinis, tetapi juga pada kemampuan membaca dan menafsirkan “bahasa listrik” otak melalui EEG, khususnya dengan pemantauan jangka panjang. Melalui penguatan kompetensi klinis, inovasi teknologi, pendidikan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas institusi, Departemen Neurologi FKKMK UGM dan RS Sardjito mempertegas perannya sebagai pusat pengembangan ilmu dan layanan epilepsi. Lebih dari sekadar forum akademik, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs dengan tujuan akhir meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas luaran klinis di masa depan.
Penulis : Muhammad Rafi Syahputra
Editor : Distya Nugrahening Pradhani
Dokumentasi : Muhammad Ahsan Zadi