+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

Dari Edukasi ke Aksi: FKKMK UGM Cetak ‘Garda Eling’, Kader Lansia Siap Hadapi Demensia di Komunitas”

Yogyakarta, April 2026 — Upaya memperkuat layanan demensia berbasis komunitas kembali digiatkan melalui Program Edukasi dan Perawatan Penderita Demensia: Pendekatan Komprehensif bagi Caregiver dan Tenaga Kesehatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM). Kegiatan ini menjadi acara pembuka dari rangkaian Abdimas Terintegrasi FKKMK UGM tahun 2026, yang melibatkan kolaborasi lintas disiplin antara Departemen Neurologi, Departemen Ilmu Keperawatan, dan Departemen Ilmu Gizi—sebuah bentuk nyata penguatan kemitraan lintas sektor dalam pembangunan kesehatan masyarakat yang sejalan dengan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals).

Mengangkat tema “Manajemen Gejala Perilaku dan Psikologis serta Komunikasi Efektif dengan Penderita Demensia”, sesi yang dilaksanakan pada 18 April 2026 ini tidak hanya berfungsi sebagai pelatihan teknis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup lansia di masyarakat. Upaya ini mencerminkan komitmen terhadap peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan kelompok rentan, sebagaimana ditekankan dalam SDG 3 (Good Health and Well-being).

Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun sebelumnya, dengan fokus penguatan kapasitas kader lansia di wilayah Tlogoadi. Pada tahun ini, target program diperluas: kader lansia tidak hanya memahami dasar-dasar demensia, tetapi juga memiliki kompetensi yang lebih komprehensif dalam mengenali, menangani, dan mengedukasi masyarakat terkait demensia. Melalui proses pembelajaran yang sistematis, berkelanjutan, dan berbasis praktik, kader didorong menjadi agen edukasi kesehatan di komunitasnya, selaras dengan prinsip SDG 4 (Quality Education) yang menekankan pentingnya pendidikan sepanjang hayat bagi semua lapisan masyarakat.

Acara diawali dengan registrasi dan pengisian instrumen pengetahuan awal kader tentang perawatan demensia, dilanjutkan dengan pembukaan serta sambutan dari berbagai pemangku kepentingan seperti Kepala Puskesmas Mlati II (dr. Raditya Kusuma Tejamurti), pemerintah Kalurahan Tlogoadi, dan Ketua Panitia (dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp.N, Subsp.NGD(K), PhD). Keterlibatan multipihak ini menunjukkan bahwa penanganan demensia membutuhkan sinergi lintas sektor dan penguatan sistem kesehatan primer yang inklusif, yang juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan target-target pembangunan kesehatan global.

Dalam sesi ilmiah, dr. Distya Nugrahening Pradhani, Sp.N, F. Neurobehavior memaparkan tentang kompleksitas Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD) serta pendekatan non-farmakologis yang dapat diterapkan oleh caregiver. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap aspek emosional dan lingkungan pasien menjadi kunci dalam mengurangi beban gejala, sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga—suatu pendekatan yang menempatkan kesejahteraan holistik sebagai prioritas utama.

Sesi berikutnya yang dibawakan oleh Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng. mengangkat pentingnya komunikasi efektif yang empatik, adaptif, dan berpusat pada pasien. Materi ini menjadi sangat relevan mengingat caregiver sering kali menghadapi tantangan emosional yang tidak ringan dalam merawat pasien demensia, sehingga pendekatan komunikasi yang tepat tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga mendukung kesehatan mental caregiver sebagai bagian dari ekosistem perawatan.

Sebagai penguatan dari materi yang diberikan, kegiatan ini dilengkapi dengan simulasi interaktif yang memungkinkan kader lansia mempraktikkan secara langsung teknik komunikasi dan manajemen perilaku dalam skenario yang menyerupai kondisi nyata. Pendekatan ini menjadikan proses pembelajaran lebih kontekstual dan aplikatif, sehingga ilmu yang diperoleh dapat segera diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan demikian, kader tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pelaku perubahan yang aktif dalam meningkatkan literasi kesehatan komunitas.

Rangkaian Abdimas ini dirancang berkelanjutan hingga akhir tahun, dengan harapan bahwa para kader lansia Tlogoadi akan mencapai tingkat kesiapan yang optimal. Pada puncak program, para kader direncanakan akan dilantik sebagai “Garda Eling”, yaitu kader lansia yang tanggap, terlatih, dan siap menjadi rujukan awal dalam deteksi dini serta penanganan kasus demensia di masyarakat.

Dengan pendekatan yang terintegrasi, edukatif, dan kolaboratif, program ini tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, tetapi juga membangun ekosistem dukungan yang berkelanjutan bagi lansia dan caregiver. Sebuah langkah strategis menuju pelayanan demensia yang lebih humanis, inklusif, dan berbasis komunitas di Indonesia.

 

Penulis : Rafi Zaki Arrizqi

Editor : Distya Nugrahening Pradhani

Dokumentasi : Syfa Dinia Putri, Wicesa Nugraha