+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

Departemen Neurologi FKKMK UGM Gelar Edukasi Deteksi Gangguan Gerak pada Demensia, Perkuat Peran Kader Puskesmas Mlati II

Sleman, 9 Mei 2026 – Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, program bertajuk “Program Edukasi dan Perawatan Penderita Demensia: Pendekatan Komprehensif bagi Caregiver dan Tenaga Kesehatan” menyasar kader kesehatan dan petugas Puskesmas Mlati II, Sleman, dengan tema khusus “Deteksi Gangguan Gerak dan Cara Mengatasinya pada Penderita Demensia”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Puskesmas Mlati II ini dibuka langsung oleh dokter spesialis neurologi sekaligus peneliti dan dosen dari Departemen Neurologi FKKMK UGM. Dalam sambutannya, dr. Distya Nugrahening Pradhani, Sp.N., F.Neurobehaviour menekankan bahwa gangguan gerak merupakan salah satu komplikasi yang sering terabaikan pada lansia dengan demensia, padahal dampaknya sangat besar terhadap penurunan kualitas hidup dan peningkatan beban perawatan.

“Gangguan gerak seperti kekakuan, langkah kecil dan terseret, hingga sulit memulai gerakan atau freezing, sering kali dianggap bagian wajar dari penuaan. Padahal, pada penderita demensia, kondisi ini bisa menjadi penanda awal sindrom parkinsonisme atau gangguan neurodegeneratif lain yang memerlukan tata laksana khusus,” jelas dr. Subagya, Sp.N., Subsp.NGD(K), dosen dan peneliti Departemen Neurologi yang menjadi narasumber utama. Deteksi dini oleh kader di tingkat komunitas, lanjutnya, menjadi kunci agar pasien segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas, maupun di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKTRL) bila diperlukan.

Materi pelatihan dirancang interaktif dan aplikatif. Para kader tidak hanya dibekali pengetahuan tentang pengenalan tanda dan gejala gangguan gerak pada demensia, tetapi juga mempraktikkan langsung teknik senam otak yang difasilitasi oleh Dr. dr. Abdul Gofir, Sp.N., Subsp.NIOO(K), sebagai bentuk stimulasi kognitif dan motorik sederhana yang dapat dilakukan di posyandu lansia. Senam otak ini mengombinasikan gerakan anggota badan dengan latihan memori, koordinasi, dan perhatian, sehingga mampu merangsang plastisitas otak sekaligus memelihara fungsi motorik lansia.

“Kami sangat antusias. Selama ini kami hanya tahu senam lansia biasa. Sekarang kami jadi paham bahwa gerakan-gerakan tertentu bisa dirancang khusus untuk melatih otak dan mencegah jatuh pada lansia yang mulai pelupa,” ujar Sri Hartati, salah satu kader kesehatan yang hadir.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang pengabdian masyarakat Departemen Neurologi FKKMK UGM yang secara langsung berkontribusi terhadap pencapaian target SDGs, khususnya SDG 3: Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia. Edukasi deteksi gangguan gerak pada demensia ini selaras dengan target 3.4 untuk mengurangi sepertiga kematian dini akibat penyakit tidak menular dan mempromosikan kesehatan mental serta kesejahteraan di seluruh siklus kehidupan, melalui pencegahan disabilitas dan penurunan risiko jatuh pada populasi lanjut usia. Lebih dari itu, penguatan kapasitas kader dan tenaga kesehatan di fasilitas primer mencerminkan implementasi target 3.8 tentang pencapaian cakupan kesehatan semesta, di mana setiap individu memiliki akses terhadap layanan kesehatan esensial yang berkualitas tanpa mengalami kesulitan keuangan.

Tak berhenti di situ, dimensi edukasi yang inklusif kepada kader dan petugas Puskesmas turut mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis tenaga kesehatan akar rumput untuk pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, terciptanya lingkungan yang mendukung penuaan aktif dan sehat di tingkat komunitas menjadi sumbangsih nyata bagi SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan.

“Kami ingin membangun sistem pendukung yang komprehensif di masyarakat. Kader adalah perpanjangan tangan kami untuk memastikan tidak ada lansia dengan demensia yang terlambat ditangani, terutama ketika mulai muncul gangguan gerak yang sebenarnya masih bisa diperlambat progresivitasnya,” tutup dr. Subagya, Sp.N., Subsp.NGD(K). Ke depan, Departemen Neurologi FKKMK UGM berencana memperluas program serupa ke lebih banyak puskesmas di wilayah DIY sebagai wujud nyata hilirisasi penelitian neurologi geriatri dan komitmen mendukung target global Global Action Plan on the Public Health Response to Dementia WHO.

 

Penulis: Halwan Fuad Bayuangga

Editor:

Dokumentasi: Anggi Pratiwi