FK-KMK UGM. Ketua Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Rusdy Ghazali Malueka, Ph.D., Sp.N., Subsp.N.Onk(K), berkontribusi sebagai narasumber dan moderator dalam 17th Annual Meeting of the Asian Cellular Therapy Organization (ACTO) 2026 yang diselenggarakan bersama Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) pada 26–28 Agustus 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta.
Mengusung tema “Advancing Research & Clinical Translation of Cell-Based Therapies: Academia, Industry, Clinicians, and Government”, ACTO–ASPI 2026 mempertemukan akademisi, klinisi, peneliti, regulator, industri, serta berbagai pemangku kepentingan dari sejumlah negara. Forum internasional ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan terapi berbasis sel dan regenerative medicine, termasuk tantangan membawa inovasi dari tahap penelitian menuju penerapan klinis.
Dalam sesi “Exploring Stem Cell Therapy as an Emerging Approach for Stroke Recovery”, dr. Rusdy membahas perkembangan terapi sel sebagai salah satu pendekatan yang tengah diteliti untuk mendukung pemulihan pasien stroke. Isu ini menjadi penting mengingat stroke memiliki beban disabilitas yang tinggi dan masih menyisakan berbagai unmet medical needs, khususnya dalam pemulihan fungsi neurologis setelah fase akut.
Perkembangan terapi sel dan regenerative medicine membuka ruang penelitian untuk memahami berbagai mekanisme yang berpotensi berperan dalam pemulihan pascastroke, termasuk perbaikan jaringan, modulasi respons inflamasi, dan pemulihan fungsi setelah cedera sistem saraf. Namun, pengembangan pendekatan tersebut tetap membutuhkan penelitian dan proses translasi yang ketat sebelum dapat diterapkan secara aman dan terstandar dalam praktik klinis.
Selain menjadi narasumber, dr. Rusdy dipercaya memoderatori sejumlah sesi strategis yang membahas aspek translasi dan regulasi terapi maju. Pada Keynote Session Day 3, ia memoderatori pembahasan mengenai kesiapan regulasi Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs) di Indonesia serta potensi klinis mesenchymal stromal cell-derived extracellular vesicles (MSC-EVs) dan tantangan translasinya.
Perspektif regulasi internasional turut dibahas dalam Pre-Panel Discussion mengenai “Regulatory Landscape for ATMPs in the European Union” dan “South Korea’s Advanced Regulatory System Supporting ATMP Development”. Diskusi tersebut memberikan gambaran mengenai pendekatan berbagai negara dalam membangun kerangka regulasi yang mampu mendukung inovasi sekaligus memastikan keamanan terapi maju.
dr. Rusdy juga memoderatori Panel Discussion bertajuk “From Research to Standard Clinical Practice: Challenges, Opportunities, and Global Perspectives”. Sesi tersebut menyoroti salah satu tantangan utama dalam pengembangan terapi inovatif, yakni menjembatani hasil penelitian dasar dan uji klinis menuju praktik klinis yang aman, efektif, dan terstandar.
ACTO–ASPI 2026 turut membahas berbagai perkembangan teknologi terapi maju, mulai dari stem cell therapy, secretome, extracellular vesicles, dan organoids hingga CAR-T cell dan NK cell therapy. Luasnya cakupan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan terapi berbasis sel membutuhkan pendekatan multidisiplin yang tidak hanya berfokus pada inovasi ilmiah, tetapi juga mempertimbangkan aspek klinis, regulasi, kesiapan infrastruktur, serta kolaborasi dengan berbagai sektor.
Keterlibatan dr. Rusdy dalam sejumlah sesi tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademisi dan klinisi Neurologi UGM dalam diskursus pengembangan terapi maju di tingkat nasional dan internasional. Bagi Departemen Neurologi FK-KMK UGM, perkembangan regenerative medicine juga membuka peluang penguatan penelitian translasi yang menjembatani ilmu dasar dengan kebutuhan klinis pasien neurologis.
Antusiasme terhadap perkembangan bidang tersebut turut dirasakan oleh generasi peneliti muda. Mahasiswa International Ph.D. Program in Cell Therapy and Regenerative Medicine, Taipei Medical University, dr. Belinda Liliana, menilai ACTO–ASPI 2026 memberikan kesempatan untuk melihat perkembangan terapi sel dari berbagai perspektif.
“Acaranya sangat baik dan memberikan banyak insights mengenai perkembangan bidang stem cell. Saya mendapatkan kesempatan untuk melihat berbagai perkembangan terbaru, tidak hanya dari sisi penelitian, tetapi juga dari aspek klinis, translasi, dan regulasi. Forum seperti ini sangat bermanfaat untuk memperluas perspektif dan membangun jejaring dengan para peneliti serta klinisi dari berbagai negara,” ungkapnya.
Forum seperti ACTO–ASPI 2026 sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan terapi berbasis sel tidak dapat dilakukan oleh satu disiplin atau institusi. Kolaborasi antara akademisi, klinisi, peneliti, pemerintah, regulator, industri, dan organisasi profesi diperlukan mulai dari penelitian dasar dan translasi, uji klinis, penyusunan regulasi, hingga implementasi inovasi dalam pelayanan kesehatan.
Kegiatan ini turut mencerminkan kontribusi FK-KMK UGM terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan penelitian dan inovasi terapi untuk penyakit dengan beban disabilitas tinggi seperti stroke sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Penguatan ekosistem penelitian translasi, teknologi biomedis, dan inovasi kesehatan mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (Industry, Innovation and Infrastructure). Sementara itu, kolaborasi lintas institusi, profesi, sektor, dan negara yang menjadi inti ACTO–ASPI 2026 mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals).
Melalui keterlibatan dalam ACTO–ASPI 2026, Departemen Neurologi FK-KMK UGM terus memperkuat kontribusi dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi neurologi. Partisipasi dr. Rusdy Ghazali Malueka sebagai narasumber dan moderator juga memperluas jejaring akademik sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan penelitian translasi dan terapi inovatif bagi penyakit neurologis.
Penulis: Rafi Zaki Arrizqi
Dokumentasi: Neurologi UGM
Editor: Distya Nugrahening Pradhani