FK-KMK UGM. Dr. dr. Abdul Ghofir, M.Sc., Sp.N., Subsp.NIOO(K), dosen dan pakar neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), menyoroti pentingnya penguatan imunisasi untuk mencegah kembali merebaknya polio di Indonesia. Pandangan tersebut dituangkan melalui artikel bertajuk “Kembalinya Polio dan Peran Penting Vaksinasi” yang dipublikasikan di Harian Kompas.
Melalui tulisan tersebut, dr. Abdul Ghofir mengingatkan bahwa munculnya kembali kasus polio menunjukkan masih adanya celah imunitas di masyarakat akibat belum optimalnya cakupan vaksinasi rutin. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena polio merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi, tetapi berpotensi menimbulkan dampak neurologis serius ketika infeksi menyerang sistem saraf.
Meskipun sebagian besar infeksi polio dapat berlangsung tanpa gejala, pada sebagian kasus virus dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan permanen. Pada kondisi berat, kelumpuhan juga dapat mengenai otot pernapasan dan mengancam keselamatan pasien. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui imunisasi tetap menjadi salah satu langkah penting dalam melindungi anak dari dampak penyakit tersebut.
Dalam artikelnya, dr. Abdul Ghofir menyoroti empat langkah yang perlu diperkuat untuk mencegah penyebaran polio. Langkah tersebut meliputi penguatan deteksi dini kasus lumpuh layu akut atau acute flaccid paralysis (AFP) sejak tingkat puskesmas, pemerataan cakupan vaksinasi polio baik melalui vaksin oral maupun suntik, serta kesiapan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan. Ia juga mengusulkan sertifikat imunisasi dasar sebagai salah satu persyaratan pendaftaran sekolah dasar untuk mendorong peningkatan cakupan imunisasi anak.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan polio tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Edukasi publik menjadi penting untuk membangun kembali kesadaran bahwa keberhasilan program imunisasi sangat dipengaruhi oleh tingginya cakupan vaksinasi di masyarakat.
dr. Distya Nugrahening Pradhani, Sp.N., menilai tulisan tersebut sangat penting dan mampu membawa perspektif keilmuan neurologi ke dalam persoalan kesehatan masyarakat yang lebih luas.
“Tulisan dr. Abdul Ghofir mengingatkan kita bahwa perlindungan terhadap polio bukan hanya persoalan medis di rumah sakit, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Informasi mengenai risiko polio disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat, sementara gagasan sertifikat imunisasi sebagai persyaratan masuk sekolah memberikan perspektif kebijakan yang menarik untuk mendorong kesadaran orang tua terhadap pentingnya imunisasi,” ujarnya.
Publikasi gagasan akademisi melalui media massa menjadi salah satu sarana untuk mendiseminasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Bagi institusi pendidikan kedokteran, kontribusi kepakaran di ruang publik juga membuka kesempatan untuk menjembatani hasil perkembangan ilmu kesehatan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong diskusi mengenai kebijakan kesehatan berbasis bukti.
Kontribusi tersebut turut mencerminkan dukungan FK-KMK UGM terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan imunisasi dan deteksi dini penyakit mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui upaya pencegahan penyakit menular dan perlindungan kesehatan anak. Upaya memastikan anak tumbuh sehat sehingga dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal turut berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Sementara itu, dorongan terhadap pemerataan cakupan imunisasi dan akses pelayanan kesehatan hingga tingkat komunitas sejalan dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities).
Upaya pencegahan polio juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara akademisi, pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, media, dan masyarakat mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) dalam menghadapi persoalan kesehatan masyarakat secara bersama-sama.
Melalui diseminasi kepakaran di ruang publik, Departemen Neurologi FK-KMK UGM terus mendorong peran akademisi untuk tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan di lingkungan pendidikan dan penelitian, tetapi juga menerjemahkannya menjadi informasi yang dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya imunisasi serta mendukung perlindungan generasi mendatang dari penyakit yang dapat dicegah.
Penulis: Nerissa Arviana
Dokumentasi: Neurologi UGM
Editor: Distya Nugrahening Pradhani