Yogyakarta — Studi Laporan Kasus terbaru oleh dr.Amelia Nur Vidyanti, Sp.N, Subsp. NGD (K), dr.Atika Rahmadini, Rifki Habibi Rahman, Dr.dr.Astuti Prodjohardjono, Sp.N, Subsp. NGD (K) dr. Desin Pambudi Sejahtera, Sp.N, Subsp.ENK (K), dan Muhammad Hardhantyo, yang dipublikasikan dalam jurnal internasional BMC Neurology tahun 2026 mengungkap tantangan yang dialami penyintas tumor otak kraniofaringioma, terutama gangguan tidur berat dan penurunan kognitif. Studi ini menekankan pentingnya layanan kesehatan multidisiplin dan akses terapi yang merata, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang kesehatan.
Sebuah studi laporan kasus yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan RSUP Dr. Sardjito yang diketuai oleh dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp.N, Subsp.NGD(K) melaporkan seorang pasien perempuan berusia 19 tahun yang mengalami narkolepsi sekunder dan gangguan kognitif setelah menjalani terapi tumor otak kraniofaringioma. Kondisi ini menyebabkan pasien tidur hingga 22–23 jam per hari dan kesulitan menjalankan aktivitas dasar sehari-hari.
Pasien yang dilaporkan merupakan penyintas tumor otak kraniofaringioma yang didiagnosis sejak usia remaja, yaitu tumor jinak di area hipotalamus, yang dapat merusak sistem pengatur tidur dan hormon. Kerusakan ini memicu gangguan tidur berat seperti hipersomnia dan narkolepsi sekunder yang sering tidak terdiagnosis. Peneliti menekankan bahwa gangguan tidur pada penyintas tumor otak kerap terabaikan karena fokus perawatan lebih banyak pada masalah hormon dan metabolik.
Diagnosis pasien ditegakkan melalui pemeriksaan tidur seperti polisomnografi dan multiple sleep latency test. Terapi kombinasi methylphenidate untuk meningkatkan kewaspadaan dan donepezil untuk dukungan kognitif menunjukkan perbaikan signifikan: waktu tidur berkurang dari lebih dari 20 jam menjadi sekitar 9 jam per hari dalam satu tahun pemantauan.
Peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan multidisiplin yang melibatkan neurologi, endokrinologi, dan rehabilitasi kognitif diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup penyintas tumor otak. Integrasi layanan gangguan tidur dalam sistem kesehatan juga dinilai penting untuk mencapai target SDGs dalam peningkatan kesehatan masyarakat dan kesejahteraan jangka panjang.
SDG 3 – Good Health and Well-Being (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan)
Data ini relevan dengan SDG 3: Good Health and Well-Being, khususnya target peningkatan akses layanan kesehatan berkualitas dan penguatan sistem kesehatan untuk penyakit kronis serta gangguan neurologis. Keterbatasan pemeriksaan seperti pengukuran hormon oreksin akibat biaya dan ketersediaan alat juga menyoroti kesenjangan layanan kesehatan yang masih terjadi di negara berkembang.
SDG 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas)
Hasil studi ini membuka wawasan yang lebih dalam pentingnya pemeriksaan multidisiplin terhadap pasien penyintas kraniofaringioma yang sebagian besar dalah remaja, dimana dampak neurokognitif memengaruhi keberlanjutan pendidikan.
SDG 17 – Partnerships for the Goals
Pendekatan multidisiplin yang disarankan penelitian (neurologi, endokrinologi, sleep medicine) menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor demi peningkatan kualitas hidup pasien.
Publikasi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan terapi tumor otak tidak hanya diukur dari kelangsungan hidup pasien, tetapi juga kualitas hidup pasca perawatan. Akses diagnosis ganggaun tidur, terapi kognitif, dan obat yang terjangkau merupakan langkah penting menuju sistem kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan dalam agenda SDGs.
Penulis : Zulfa Faiqoh
Editor : Distya Nugrahening Pradhani