+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

Perkembangan Diagnosis dan Terapi Penyakit Neuroimun Dibahas pada Simposium Neuroimun JogjaCLAN 2026

Yogyakarta, 11 Juli 2026 – Perkembangan ilmu neuroimun membawa perubahan penting dalam pendekatan diagnosis dan tata laksana berbagai penyakit sistem saraf, baik yang melibatkan saraf perifer maupun sistem saraf pusat. Menjawab kebutuhan pembaruan ilmu tersebut, Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Simposium Neuroimun dan Muskuloskeletal dalam rangkaian Jogja Neurology Update (JogjaCLAN) XVI 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada 11 Juli 2026. Simposium ini menghadirkan tiga pakar dari FK-KMK UGM yang membahas perkembangan terkini mengenai sindrom neurologis paraneoplastik, Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy (CIDP), dan pembaruan McDonald Criteria 2024 pada Multiple Sclerosis (MS).

Treatment Approaches of Paraneoplastic Neurologic Syndrome in Peripheral Nervous System

Sesi pertama dibawakan oleh dr. Kusumo Dananjoyo, M.Sc., Sp.N., Subsp.N.Onk(K) yang mengulas pendekatan terapi Sindrom Neurologis Paraneoplastik (SNP) pada Sistem Saraf Perifer. Sindrom ini merupakan kelainan neurologis langka yang disebabkan oleh mekanisme imunologis pada pasien dengan keganasan, dengan insidensi sekitar 0,01%-1% di antara seluruh pasien tumor ganas. dr. Kusumo Dananjoyo memaparkan tiga pilar utama terapi SNP, yakni penanganan tumor (sebagai langkah terpenting untuk stabilisasi pasien), terapi imunomodulator, dan terapi simtomatik. Terapi lini pertama meliputi pemberian kortikosteroid, imunoglobulin intravena (IVIG), atau plasma exchange (PLEX). Pada kasus yang tidak memberikan respons optimal, terapi imunosupresan lini kedua seperti rituximab atau siklofosfamid dapat dipertimbangkan. Pemaparan ini memberikan panduan praktis bagi klinisi dalam menegakkan diagnosis dini dan menyusun strategi terapi yang tepat pada kasus SNP yang seringkali menjadi tantangan diagnostik.

Practical Guidance and Treatment Goals of Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy

Materi kedua disampaikan oleh Dr. dr. Ahmad Asmedi, M.Kes., Sp.N., Subsp.ENK(K) yang membahas panduan praktis dan tujuan terapi Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy (CIDP). CIDP merupakan penyakit autoimun kronis pada sistem saraf perifer yang menyebabkan gangguan motorik dan sensorik progresif, dengan morbiditas yang signifikan. dr. Asmedi memaparkan strategi terapi lini pertama yang meliputi kortikosteroid, IVIG, dan plasmapheresis, serta panduan eskalasi dan titrasi terapi imunosupresif pada kasus refrakter. Penekanan pada intervensi dini untuk mencegah degenerasi aksonal dan disabilitas menjadi pesan kunci dalam sesi ini. Pemaparan ini juga menyoroti pentingnya pemeriksaan fisik berkala untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan menyesuaikan terapi pemeliharaan, mengingat belum tersedianya biomarker yang secara akurat mencerminkan status penyakit.

Redefining the Diagnosis of Multiple Sclerosis: Updates and Clinical Implications of the McDonald Criteria 2024

Materi ini dibawakan oleh dr. Indra Sari Kusuma Harahap, Ph.D., Sp.N., Subsp.ENK(K) yang mengupas secara mendalam revisi terbaru Kriteria McDonald 2024 untuk diagnosis Multiple Sclerosis (MS). Revisi 2024 menandai pergeseran besar dalam diagnosis MS dengan mengadopsi pendekatan yang lebih berlandaskan biologi, mengintegrasikan bukti radiologis dan cairan serebrospinal untuk memungkinkan diagnosis yang lebih cepat dan akurat. Perubahan kunci meliputi pengakuan saraf optik sebagai lokasi topografis kelima untuk dissemination in space, inkorporasi penanda MRI canggih seperti central vein sign dan paramagnetic rim lesions untuk meningkatkan spesifisitas, serta penerimaan indeks kappa free light chains sebagai alternatif kuantitatif pengganti oligoclonal bands. Kriteria baru ini juga memungkinkan diagnosis MS pada pasien dengan radiologically isolated syndrome tertentu yang didukung oleh biomarker, serta menyediakan jalur terpadu untuk fenotipe relaps dan progresif di seluruh rentang usia, termasuk anak-anak. Dengan meningkatnya sensitivitas dan pemendekan waktu diagnosis, kriteria 2024 diharapkan dapat mengidentifikasi pasien dengan perjalanan penyakit yang lebih ringan sekaligus mempertahankan spesifisitas.

Ketiga materi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ilmu neuroimun saat ini tidak hanya menghadirkan inovasi pada aspek terapi, tetapi juga mendorong pendekatan diagnosis yang semakin presisi. Integrasi antara deteksi dini, pemanfaatan biomarker, serta penerapan terapi berbasis bukti diharapkan mampu meningkatkan luaran klinis pasien dengan berbagai penyakit neuroimun.

Melalui penyelenggaraan simposium ini, Departemen Neurologi FK-KMK UGM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan mutu pelayanan neurologi berbasis bukti ilmiah, SDG 4 (Quality Education) melalui pendidikan kedokteran berkelanjutan bagi tenaga kesehatan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antarsubspesialisasi dalam memperkuat pendidikan, penelitian, dan pelayanan neurologi di Indonesia.

Penulis: Halwan Fuad Bayuangga

Editor: Bardatin Lutfi Aifa

Dokumentasi: Sie Publikasi dan Dokumentasi Jogja-CLAN XVI 2026