Yogyakarta, 12 Juli 2026 – Perkembangan teknologi pencitraan dan terapi adjuvan terus mengubah paradigma tata laksana stroke iskemik akut. Jika sebelumnya keputusan terapi reperfusi sangat bergantung pada waktu sejak timbulnya gejala, kini pendekatan yang lebih presisi memungkinkan pemilihan pasien berdasarkan kondisi jaringan otak yang masih dapat diselamatkan. Perkembangan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Simposium Cerebrovascular pada hari kedua Neurology Update XIV JogjaCLAN 2026 yang berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.
Simposium yang dimoderatori oleh dr. Faishal Hanif, Sp.N. ini diikuti oleh dokter spesialis neurologi, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), akademisi, serta tenaga kesehatan dari berbagai institusi di Indonesia. Dua topik utama yang diangkat meliputi perluasan jendela trombolisis intravena pada stroke iskemik akut serta perkembangan terapi neuroproteksi sebagai pelengkap terapi reperfusi.
Materi pertama disampaikan oleh dr. Rakhian Listyawan, Sp.N., FINA melalui topik Extending the Treatment Window for Intravenous Thrombolysis in Acute Ischemic Stroke: Yes or No?. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa tata laksana stroke kini telah bergeser dari pendekatan berbasis waktu (time window) menuju pendekatan berbasis kondisi jaringan otak (tissue window). Berdasarkan pembaruan AHA/ASA Guideline 2026, pasien dengan wake-up stroke maupun onset yang tidak diketahui dapat dipertimbangkan menjalani trombolisis intravena hingga sembilan jam sejak last known well atau titik tengah waktu tidur apabila pemeriksaan pencitraan lanjutan menunjukkan masih terdapat jaringan otak yang berpotensi diselamatkan.
Dr. Rakhian menjelaskan bahwa “keputusan terapi kini beralih menggunakan pencitraan tingkat lanjut untuk menilai kelangsungan hidup jaringan otak (penumbra) di luar batasan waktu konvensional.” Pendekatan berbasis MRI DWI–FLAIR mismatch maupun CT/MR perfusion imaging memungkinkan identifikasi pasien yang masih berpotensi memperoleh manfaat terapi reperfusi meskipun telah melewati batas waktu trombolisis konvensional. Selain itu, pembaruan pedoman juga menempatkan tenecteplase sebagai alternatif yang setara dengan alteplase pada pasien yang memenuhi kriteria trombolisis intravena.
Topik berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.N., Subsp.NIOO(K) melalui materi Beyond Reperfusion Therapies: The Role of N-Acetylcysteine Infusion in Current Acute Ischemic Stroke Management. Beliau menekankan bahwa keberhasilan tata laksana stroke tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan viabilitas jaringan otak setelah reperfusi. Menurut beliau, “era reperfusi perlu diikuti dengan strategi neuroproteksi yang efektif agar manfaat reperfusi dapat dipertahankan hingga fase pemulihan.”
Dalam konteks tersebut, N-acetylcysteine (NAC) dipaparkan sebagai salah satu kandidat terapi neuroproteksi yang menjanjikan. Melalui mekanisme antioksidan dan antiinflamasi, NAC berpotensi mengurangi cedera jaringan otak akibat stres oksidatif, inflamasi, dan disfungsi mitokondria yang masih berlangsung setelah reperfusi. Meskipun masih memerlukan bukti lebih lanjut melalui penelitian klinis, pendekatan ini mencerminkan arah perkembangan terapi stroke modern yang tidak hanya berfokus pada reperfusi, tetapi juga pada upaya mengoptimalkan pemulihan neurologis pasien.
Kedua materi tersebut menunjukkan bahwa tata laksana stroke iskemik akut terus berkembang menuju pendekatan yang lebih presisi dan komprehensif. Integrasi teknologi pencitraan untuk memilih kandidat terapi reperfusi serta pengembangan terapi neuroproteksi diharapkan dapat memperluas peluang keberhasilan pengobatan sekaligus meningkatkan luaran fungsional pasien setelah stroke.
Melalui penyelenggaraan simposium ini, Neurology Update XIV JogjaCLAN 2026 kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan forum ilmiah yang mempertemukan perkembangan ilmu pengetahuan dengan praktik klinis sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam mengimplementasikan bukti ilmiah terbaru sekaligus mendorong peningkatan kualitas pelayanan stroke di Indonesia.
Simposium Cerebrovascular ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, pemanfaatan inovasi berbasis bukti, serta optimalisasi tata laksana stroke untuk menurunkan angka kematian dan disabilitas akibat penyakit serebrovaskular. Di samping itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education) melalui pendidikan kedokteran berkelanjutan serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan memperkuat kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan klinisi dalam mendorong implementasi inovasi pelayanan neurologi di Indonesia.
Penulis : Natasha Yang
Editor : Bardatin Lutfi Aifa
Dokumentasi : Publikasi dan Dokumentasi JogjaCLAN 2026