+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

Simposium Vii Jogjaclan 2026: Mengupas Tuntas Penanganan Kejang Simptomatik Akut, Status Epileptikus Refrakter, Dan Resusitasi Otak Pada Perawatan Kritis Neurologi

Yogyakarta, 11 Juli 2026 – Dunia medis, khususnya di bidang epilepsi dan perawatan kritis saraf (neurocritical care), terus berkembang pesat. Kemajuan ini menuntut para tenaga kesehatan untuk selalu memperbarui pengetahuan mereka, terutama dalam menghadapi pasien dengan kondisi neurologis yang gawat darurat.

Menjawab kebutuhan vital tersebut, rangkaian acara JogjaCLAN 2026 menggelar Simposium VII yang berfokus pada topik Epilepsy and Intensive Care. Bertempat di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, acara yang diselenggarakan pada 11 Juli 2026 ini menghadirkan tiga pakar untuk membedah pendekatan terbaru berbasis bukti ilmiah. Diskusi difokuskan pada penanganan kejang simptomatik akut, status epileptikus refrakter, hingga resusitasi otak (brain resuscitation) pada kasus cedera otak traumatik.

Dipandu dengan apik oleh dr. Muhammad Akbar, Sp.N., Subsp.ENK(K) sebagai moderator, simposium berjalan dengan sangat interaktif. Antusiasme peserta langsung terasa dari banyaknya pertanyaan kritis seputar tata laksana kejang di ruang intensif, pemilihan obat anti-kejang (ASM), cara membaca rekam gelombang otak (EEG), hingga strategi penyelamatan saraf pada cedera otak.

Sesi pertama dibuka oleh dr. Macho Marcello, Sp.N., F. Neurofisiologi Klinik yang membawakan materi “Practical Strategies and Management of Acute Symptomatic Seizure in Critical Care Settings”. Beliau memaparkan bahwa kejang simptomatik akut adalah kejang yang dipicu langsung oleh cedera mendadak pada sistem saraf pusat—seperti stroke, benturan di kepala, infeksi, hingga gangguan metabolik atau keracunan. “Kondisi ini berbeda dengan epilepsi biasa karena ada penyebab akut yang jelas memicunya,” jelas dr. Macho. Oleh karena itu, penanganan utamanya harus difokuskan pada perbaikan penyebab dasar tersebut.

Pada perawatan pasien kritis di ruang intensif, beliau sangat menyarankan penggunaan alat pantau rekam otak terus-menerus (continuous EEG) guna mendeteksi kejang terselubung yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Untuk terapi jangka pendeknya, obat anti-kejang seperti levetiracetam dan lacosamide kini semakin direkomendasikan karena terbukti efektif dan memiliki profil keamanan yang baik.

Beranjak ke sesi kedua, dr. Desin Pambudi Sejahtera, M.Sc., Sp.N., Subsp.ENK(K) menyoroti kondisi yang lebih gawat melalui materi “Drug-Resistant and Refractory Status Epilepticus: Escalating to Neurocritical Care”. Beliau mengingatkan bahwa status epileptikus (kejang berkepanjangan) adalah kegawatdaruratan yang butuh tindakan segera untuk mencegah kerusakan otak permanen. Jika kejang tetap membandel meski sudah diberi obat lini pertama dan kedua, pasien masuk dalam fase refrakter dan harus segera dipindahkan ke unit perawatan kritis saraf.

“Pengambilan keputusan untuk memindahkan pasien ke ruang intensif harus cepat, idealnya jika kejang tidak teratasi dalam waktu sekitar 60–90 menit sejak awal muncul,” tegas dr. Desin. Di ruang intensif ini, pasien akan mendapat terapi anestesi melalui infus, pemantauan EEG tanpa henti, hingga tambahan imunoterapi pada kasus yang super-refrakter. Penggunaan istilah EEG yang seragam juga ditekankan agar tenaga medis tidak salah langkah dalam mendiagnosis maupun memantau respons terapi.

Sebagai pelengkap, dr. Indarwati Setyaningsih, Sp.N., Subsp.NKI(K) menutup sesi pemaparan dengan materi Brain Resuscitation in Traumatic Brain Injury. Beliau menggarisbawahi bahwa penanganan cedera otak akibat trauma tidak boleh hanya fokus pada luka benturan awalnya saja. “Kita juga harus mencegah cedera susulan (secondary injury) yang bisa diakibatkan oleh kurangnya suplai oksigen, tekanan darah yang merosot, atau pembengkakan di dalam otak, yang dapat memperburuk peluang pemulihan pasien,” paparnya.

Pencegahan ini dilakukan lewat konsep brain resuscitation—sebuah langkah penyelamatan komprehensif yang dimulai sejak fase awal pasien tiba. Tim medis akan memastikan jalan napas aman, mengontrol suhu tubuh, hingga terus memantau tekanan di dalam rongga kepala untuk menentukan apakah perlu tindakan bedah segera. Harapannya, kerja sama tim yang cepat dan berbasis bukti ini bisa meminimalkan kerusakan otak lebih lanjut.

Ketiga materi ini sukses merangkai panduan utuh bagi tenaga medis dalam mengambil keputusan yang cepat, sistematis, dan akurat untuk pasien neurologi kritis. Hal ini diamini oleh para peserta yang terus aktif berdiskusi di akhir acara. Salah seorang peserta mengungkapkan, “Simposium ini memberikan pembahasan yang sangat aplikatif untuk kasus-kasus kegawatdaruratan yang sering kami jumpai dalam praktik sehari-hari. Materinya sistematis, mudah dipahami, dan didukung bukti ilmiah terkini sehingga langsung bisa diterapkan”. Peserta lain turut mengapresiasi kualitas narasumber berpengalaman dan kelengkapan topik yang berhasil memberikan mereka wawasan baru.

Melalui suksesnya Simposium VII ini, JogjaCLAN 2026 kembali menegaskan komitmennya sebagai wadah ilmiah yang berdampak nyata bagi pelayanan kesehatan di Indonesia. Tidak sekadar forum edukasi, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan wujud komitmen kuat dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs).

Peningkatan ilmu kedokteran yang berkelanjutan bagi para tenaga kesehatan merupakan bentuk kontribusi langsung pada SDG 4 (Quality Education). Selanjutnya, kualitas pelayanan pasien kegawatdaruratan neurologi yang kian membaik akan memperkuat pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-being). Semua ini dapat terwujud berkat sinergi yang harmonis antara akademisi, klinisi, dan organisasi profesi yang mencerminkan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals).

Penulis: Muhammad Rafi Syahputra

Editor: Bardatin Lutfi Aifa
Dokumentasi: Dwi Ayu Lestari