+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

Mengasah Ketepatan Diagnosis dan Tata Laksana melalui Workshop Vertigo JogjaCLAN 2026

Yogyakarta, 10 Juli 2026 – Vertigo merupakan salah satu keluhan yang sering dijumpai dalam praktik klinis, tetapi membedakan vertigo perifer dan sentral tidak selalu mudah. Keluhan seperti rasa berputar, oleng, tidak stabil, atau pusing (dizziness) dapat memiliki berbagai penyebab dengan konsekuensi klinis yang berbeda. Kesalahan dalam mengenali karakteristik vertigo dapat berujung pada keterlambatan diagnosis kondisi serius, termasuk stroke sirkulasi posterior, maupun pemberian terapi yang kurang tepat.

Menjawab tantangan tersebut, Neurology Update XIV JogjaCLAN 2026 kembali menghadirkan Workshop Vertigo yang membahas pendekatan diagnosis dan tata laksana vertigo secara komprehensif. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta ini diikuti oleh 34 peserta, terdiri atas dokter umum dan dokter spesialis neurologi, dengan format pembelajaran intensif yang memadukan sesi ilmiah dan praktik langsung.

Workshop diawali dengan pre-test dan sesi ilmiah Recognizing Diagnostic Pitfalls in Vertigo: Central vs Peripheral Red Flags yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Sri Sutarni, Sp.N., Subsp.N.Ped(K). Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya anamnesis yang terarah sebagai langkah awal dalam menegakkan diagnosis vertigo. Penggalian karakteristik keluhan secara tepat diperlukan untuk membedakan vertigo dari keluhan lain seperti nyeri kepala atau sefalgia yang dalam percakapan sehari-hari kerap disebut sebagai “pusing”.

Selain anamnesis, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan spesifik memiliki peran penting dalam mengidentifikasi kemungkinan vertigo sentral. Pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan penunjang lainnya dapat digunakan sesuai indikasi untuk mendukung proses diagnosis. Pendekatan yang sistematis diharapkan dapat membantu klinisi mengenali red flags dan menghindari kesalahan diagnosis, terutama pada kondisi yang memerlukan penanganan segera.

Sesi berikutnya membahas aspek tata laksana melalui materi Avoiding Management Pitfalls in Vertigo: When and How to Intervene yang disampaikan oleh Dr. dr. Cempaka Thursina Srie Setyaningrum, Sp.N., Subsp.N.Ped(K). Materi ini menyoroti pentingnya memastikan diagnosis sebelum menentukan intervensi, sehingga terapi yang diberikan sesuai dengan penyebab dan karakteristik vertigo pasien.

Dr. Cempaka juga berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam membedakan diagnosis vertigo secara lebih akurat. “Penting untuk membedakan vertigo sentral dan perifer, karena dengan diagnosis yang tepat dapat memilih manajemen yang lebih tepat dan akan merujuk ke kesembuhan pasien yang lebih tepat,” ujarnya.

Setelah sesi ilmiah, peserta memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui sesi hands-on. Pemeriksaan dalam menegakkan diagnosis vertigo dan pemeriksaan neuro-otologi dipraktikkan bersama dr. Bardatin Lutfi Aifa, M.Res., Ph.D., Sp.N., F. Neuroinfeksi Neuroimunologi melalui sesi Practical Approach to Diagnosing Vertigo and Neuro-otologic Examination. Sesi ini memberikan pengalaman praktis bagi peserta dalam mengintegrasikan anamnesis dan pemeriksaan klinis untuk memperkuat ketepatan diagnosis.

Rangkaian praktik dilanjutkan dengan materi Practical Techniques in Vertigo Rehabilitation yang dibawakan oleh dr. Indarwati Setyaningsih, Sp.N., Subsp.NKI(K). Sesi ini melengkapi pembelajaran dengan pendekatan rehabilitasi vertigo yang dapat diterapkan dalam praktik klinis sesuai kondisi pasien.

Format pembelajaran yang memadukan pemaparan ilmiah dengan praktik langsung membuat workshop berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya memperoleh pembaruan pengetahuan mengenai berbagai tantangan diagnostik dan tata laksana vertigo, tetapi juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan para pakar dan mempraktikkan pendekatan pemeriksaan yang relevan dengan kasus sehari-hari.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan vertigo membutuhkan lebih dari sekadar mengenali keluhan “pusing”. Ketepatan anamnesis, kemampuan mengidentifikasi tanda bahaya, pemeriksaan neuro-otologi yang sistematis, serta pemilihan intervensi dan rehabilitasi yang sesuai menjadi bagian yang saling melengkapi dalam memberikan pelayanan yang optimal bagi pasien.

Penyelenggaraan Workshop Vertigo dalam rangkaian Neurology Update XIV JogjaCLAN 2026 juga menjadi bagian dari komitmen Departemen Neurologi FK-KMK UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan melalui pelatihan berbasis praktik berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education), sementara peningkatan ketepatan diagnosis dan tata laksana vertigo mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya meningkatkan mutu pelayanan dan mengurangi risiko disabilitas akibat gangguan vestibular maupun kondisi neurologis serius yang mendasarinya. Kolaborasi antara akademisi, klinisi, dan peserta dari berbagai institusi juga mencerminkan SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam memperkuat jejaring pendidikan dan pelayanan neurologi secara berkelanjutan.

 

Penulis: Febrina Citra Ayu Kusuma

Editor: Bardatin Lutfi Aifa

Dokumentasi: Sie Publikasi dan Dokumentasi Jogja-CLAN XVI 2026

Click Here
Click Here
Click Here
Click Here
Click Here