Demensia adalah suatu sindrom penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan menurunnya fungsi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku Menyikapi kondisi tersebut, Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menghadirkan Simposium Neurobehavior dalam rangkaian Neurology Update XVI JogjaCLAN 2026, sebagai wadah pembelajaran bagi tenaga kesehatan untuk memperbarui pengetahuan mengenai diagnosis dan tata laksana gangguan kognitif terkini.
Sesi acara yang diselenggarakan pada 11 Juli 2026 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta ini dimoderatori oleh dr. Mira Tamila Nurul Maulida A., Sp.N dan diikuti oleh dokter umum, dokter spesialis neurologi, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), akademisi, serta tenaga kesehatan dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para peserta untuk memperbarui pemahaman mengenai tantangan, strategis, dan solusi diagnosis dini pada gangguan kognitif, serta tata laksana terkini berbasis bukti ilmiah terkini.

Pada sesi pertama, Dr. dr. Astuti, Sp.N, Subsp.NGD(K), membawakan materi berjudul “Overcoming Barriers in Early Detection & Diagnosis of MCI: Strategies & Clinical Solutions”. Pada kesempatan tersebut, beliau menyampaikan bahwa demensia adalah krisis kesehatan global dengan tren prevalensi yang meningkat ekponensial. Sebanyak 60,7% hingga 90% kasus demensia gagal terdeteksi pada tahap awal. Penurunan fungsi kognitif awal sering diabaikan akibat stigma atau disalapahami sebagai efek penuaan normal. Keterlambatan diagnosis memperburuk gejala, memicu resiko keselamatan, dan melipatgandakan beban ekonomi. Beliau menjelaskan strategi untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan solusi yang spesifik sesuai dengan tingkatan individu, komunitas, dan infrastruktur.
Materi kedua dengan judul “From Symptomatic Care to Disease Modifying Therapy: Realistic Alzheimer Diseases Management for Neurologist in Low-Middle Income Countries” disampaikan oleh dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D., Sp.N., Subsp.NGD(K). Dalam paparannya, dr. Amelia Nur Vidyanti menyampaikan perubahan paradigma dalam tata laksana penyakit Alzheimer, dari pendekatan yang semata-mata berfokus pada pengendalian gejala menuju pemanfaatan disease-modifying therapy (DMT) yang mampu memperlambat progresivitas penyakit. Namun, implementasi terapi baru tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi negara berpendapatan rendah dan menengah (LMIC), termasuk Indonesia, yang masih menghadapi keterbatasan akses diagnosis dan pengobatan. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, pembicara mengusulkan lima pilar utama yang dapat diterapkan oleh neurolog di negara berkembang. Pilar pertama adalah pencegahan penyakit melalui pengendalian faktor resiko yang dapat dimodifikasi. Pilar kedua adalah diagnosis yang tepat, dengan memanfaatkan alat diagnostic dan biomarker baru khususnya plasma p-tau217. Pilar ketiga adalah pengobatan dengan edukasi ke pasien dan pengasuh yang tepat. Pilar keempat adalah pemanfaatan disease modifying therapy, khususnya antibodi monoklonal anti-amiloid seperti lecanemab dan donanemab. Pilar terakhir yaitu kelima, adalah kontribusi uji klinis yang lebih sesuai dengan kebutuhan populasi di Indonesia dan negara-negara LMIC lainnya.
Antusiasme peserta selama simposium mencerminkan tingginya komitmen tenaga kesehatan untuk terus memperbarui kompetensi di bidang neurologi, khususnya neurobehavior. Forum ilmiah seperti JogjaCLAN diharapkan mampu memperkuat implementasi praktik kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine) serta meningkatkan kualitas pelayanan neurologi di Indonesia.
Penyelenggaraan Simposium Neurobehavior ini menjadi bagian dari komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung pengembangan pendidikan kedokteran berkelanjutan, penelitian, dan pelayanan kesehatan yang berdampak bagi masyarakat. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan penyakit neurodegeneratif, SDG 4 (Quality Education) melalui penyelenggaraan pendidikan kedokteran berkelanjutan berbasis bukti ilmiah, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi antara institusi akademik, rumah sakit pendidikan, dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan neurologi di Indonesia.
Penulis: Febrina Citra Ayu Kusuma
Editor: Bardatin Lutfi Aifa
Dokumentasi: Sie Publikasi dan Dokumentasi Jogja-CLAN XVI 2026