+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

EEG in Action: Departemen Neurologi FK-KMK UGM Tingkatkan Kompetensi Klinisi Melalui Intermediate EEG Workshop

Yogyakarta, 10 Juli 2026 – Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) Cabang Yogyakarta menyelenggarakan Intermediate EEG Workshop bertajuk EEG in Action: From Patterns to Patients di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat, 10 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh dokter spesialis neurologi, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), dan tenaga kesehatan dari berbagai institusi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dalam interpretasi elektroensefalografi (EEG) yang akurat, berbasis bukti, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Elektroensefalografi (electroencephalography/EEG) merupakan salah satu pemeriksaan penunjang utama dalam neurologi yang berperan penting dalam diagnosis berbagai gangguan sistem saraf, seperti epilepsi, ensefalopati, gangguan kesadaran, hingga penyakit metabolik yang memengaruhi fungsi otak. Seiring berkembangnya ilmu neurofisiologi klinis, interpretasi EEG tidak lagi sekadar mengenali pola gelombang listrik otak, tetapi juga menuntut kemampuan mengintegrasikan hasil pemeriksaan dengan anamnesis, pemeriksaan neurologis, dan kondisi klinis pasien. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi dalam interpretasi EEG menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan neurologi yang lebih presisi dan berbasis evidence-based medicine.

Workshop dibuka oleh Ketua PERDOSNI Cabang Yogyakarta, dr. Ahmad Asmedi, M.Kes., Sp.N., Subsp.ENK(K), yang menekankan bahwa kemampuan membaca EEG merupakan salah satu kompetensi fundamental seorang neurolog. Menurutnya, interpretasi EEG yang tepat akan membantu klinisi mengambil keputusan diagnostik maupun terapeutik secara lebih akurat sehingga berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan pasien.

Mengusung tema From Patterns to Patients, workshop ini menegaskan bahwa interpretasi EEG tidak berhenti pada pengenalan pola gelombang listrik otak semata. Peserta diajak memahami bagaimana setiap temuan EEG diterjemahkan ke dalam konteks klinis sehingga dapat mendukung penegakan diagnosis, menentukan tata laksana, serta memantau perjalanan penyakit secara lebih komprehensif.

Sesi ilmiah menghadirkan para narasumber yang berpengalaman di bidang neurofisiologi klinis, yaitu dr. Arie Khairani, Sp.N., Subsp.Ped(K); dr. Ria Damayanti, M.Biomed., Sp.N., Subsp.ENK(K); dr. Desin Pambudi Sejahtera, M.Sc., Sp.N., Subsp.ENK(K); dr. Macho Marcello, Sp.N., F-Neurofisiologi Klinis; dan dr. Yudiyanta, Sp.N., Subsp.NN(K). Berbagai materi disampaikan secara komprehensif, mulai dari pola maturasi EEG sejak masa neonatus hingga remaja, ritme alfa dan variasi normal, identifikasi aktivitas epileptiform interiktal, pengenalan artefak fisiologis maupun nonfisiologis, hingga interpretasi EEG pada ensefalopati dan koma. Pembahasan tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman mengenai karakteristik gelombang EEG, tetapi juga mengasah kemampuan peserta dalam menghubungkan temuan neurofisiologis dengan kondisi klinis pasien.

Selain pembelajaran teori, workshop dilengkapi dengan sesi hands-on yang dibagi ke dalam empat rotasi. Pada sesi ini peserta berlatih menginterpretasikan EEG pada berbagai kondisi klinis, termasuk epilepsi dan sindrom epilepsi, variasi EEG berdasarkan usia, perubahan pola EEG saat bangun maupun tidur, serta kemampuan membedakan aktivitas listrik otak yang sebenarnya dengan berbagai artefak (signal versus noise). Pendekatan pembelajaran interaktif ini memberikan pengalaman yang mendekati praktik klinis sehari-hari sehingga peserta dapat mengembangkan kemampuan analisis secara sistematis dan meningkatkan kepercayaan diri dalam membaca EEG.

Salah satu peserta, dr. Khoironi R. Damarjati, Sp.N., menyampaikan bahwa workshop ini memberikan pengalaman belajar yang sangat bermanfaat karena memadukan pembahasan teori dengan latihan interpretasi berbagai kasus nyata. Menurutnya, sesi diskusi bersama para narasumber membantu peserta memahami cara membedakan variasi normal, artefak, hingga temuan patologis yang sering dijumpai dalam praktik klinis.

Melalui workshop ini, Departemen Neurologi FK-KMK UGM tidak hanya memperkuat kompetensi individu, tetapi juga membangun ruang diskusi ilmiah dan kolaborasi antarneurolog dari berbagai institusi. Pertukaran pengalaman klinis serta penyamaan persepsi dalam interpretasi EEG diharapkan mampu mendukung implementasi praktik berbasis bukti dan meningkatkan kualitas pelayanan neurologi di Indonesia.

Penyelenggaraan Intermediate EEG Workshop ini juga mencerminkan komitmen Departemen Neurologi FK-KMK UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini berkontribusi terhadap SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam interpretasi EEG sehingga mendukung diagnosis yang lebih akurat, penatalaksanaan yang lebih tepat, dan pelayanan neurologi yang semakin berkualitas. Workshop ini juga sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) melalui penyelenggaraan pendidikan kedokteran berkelanjutan yang mengintegrasikan pembelajaran teoritis, diskusi kasus berbasis bukti, dan pelatihan praktik langsung. Di sisi lain, optimalisasi pemanfaatan teknologi EEG dalam praktik klinis mendukung SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan inovasi pelayanan kesehatan berbasis teknologi medis, sementara kolaborasi antara Departemen Neurologi FK-KMK UGM, PERDOSNI Cabang Yogyakarta, para narasumber, dan peserta dari berbagai institusi menjadi wujud implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam memperkuat jejaring pendidikan, penelitian, dan pelayanan neurologi.

Melalui Intermediate EEG Workshop “EEG in Action: From Patterns to Patients”, Departemen Neurologi FK-KMK UGM kembali menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan kedokteran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan mengintegrasikan pembelajaran teoritis, praktik langsung, dan diskusi berbasis kasus, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi tenaga kesehatan sekaligus mendorong terwujudnya pelayanan neurologi yang lebih presisi, berbasis bukti, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.

Penulis             : Zulfa Faiqoh

Editor              : Bardatin Lutfi Aifa

Dokumentasi   : Dwi Ayu Lestari