+62 274 543473 | 543472

KSM Saraf RSUP dr. Sardjito, Basement, Irna 1, Sleman, DI Yogyakarta

saraf.fk@ugm.ac.id

Dari Diagnosis hingga Neuroproteksi: Simposium Cerebrovascular JogjaCLAN 2026 Bahas Perkembangan Terkini Tata Laksana Stroke

Yogyakarta, 11 Juli 2026 – Perkembangan ilmu neurovaskular yang semakin pesat menuntut tenaga kesehatan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan klinis melalui pendidikan kedokteran berkelanjutan. Menjawab kebutuhan tersebut, Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Simposium Cerebrovascular dalam rangkaian JogjaCLAN 2026 yang mengangkat berbagai perkembangan terkini mengenai diagnosis neurovaskular dan strategi neuroproteksi pada stroke. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta terhadap tata laksana penyakit serebrovaskular berdasarkan perkembangan bukti ilmiah terkini.

Simposium dipandu oleh dr. Anak Agung Ayu Suryapraba Indradewi K., Sp.N., Subsp.NKI(K) yang memoderatori jalannya diskusi secara interaktif. Antusiasme peserta terlihat sejak awal sesi melalui berbagai pertanyaan dan diskusi yang membahas implementasi temuan ilmiah dalam praktik klinis sehari-hari.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Tommy Rachmat Setyawan, Sp.N., Subsp.NIOO(K)., FINS., FINA dengan judul Developmental Venous Anomaly: Clinical Manifestation and Neurovascular Diagnosis.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa Developmental Venous Anomaly (DVA) merupakan kelainan vena serebral yang paling sering ditemukan dan umumnya bersifat jinak serta teridentifikasi secara insidental pada pemeriksaan pencitraan. Meskipun sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala, DVA tetap memerlukan pemahaman yang baik karena pada kondisi tertentu dapat menimbulkan komplikasi akibat gangguan hemodinamik, seperti kongesti vena, trombosis, perdarahan intraserebral, maupun berasosiasi dengan malformasi vaskular lainnya.

Lebih lanjut, dr. Tommy menekankan pentingnya pemanfaatan modalitas pencitraan modern dalam menegakkan diagnosis DVA. Pemeriksaan MRI, khususnya menggunakan Susceptibility-Weighted Imaging (SWI), memiliki sensitivitas tinggi dalam mengidentifikasi struktur vena dan karakteristik DVA dibandingkan sekuens konvensional. Selain itu, angiografi serebral tetap menjadi pemeriksaan penting untuk menggambarkan arsitektur vaskular secara lebih rinci pada kasus-kasus tertentu. Beliau juga mengingatkan bahwa pemahaman terhadap mekanisme patofisiologi DVA sangat penting dalam menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat, mengingat sebagian besar DVA tidak memerlukan tindakan intervensi dan justru harus dipertahankan karena berfungsi sebagai jalur drainase vena normal otak.

Sesi berikutnya menghadirkan Prof. Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.N., Subsp.NIOO(K) yang membawakan materi Strategies for Protecting and Preserving Neurons in Stroke Management: Does Neuroprotection Still Have a Role? Dalam paparannya, beliau mengulas perkembangan konsep neuroproteksi dalam tata laksana stroke iskemik serta berbagai tantangan penerapannya di praktik klinis. Meskipun terapi reperfusi seperti trombolisis intravena dan trombektomi mekanik tetap menjadi terapi utama, upaya melindungi jaringan otak yang masih dapat diselamatkan tetap menjadi fokus penting dalam penelitian dan pengembangan terapi stroke modern.

Prof. Ismail menjelaskan bahwa proses cedera neuron pada stroke melibatkan mekanisme yang kompleks, meliputi gangguan metabolisme energi, eksitotoksisitas, stres oksidatif, inflamasi, hingga apoptosis. Oleh karena itu, berbagai strategi neuroproteksi terus dikembangkan untuk menghambat proses tersebut dan mempertahankan viabilitas jaringan otak. Beliau juga menekankan bahwa hingga saat ini belum terdapat satu agen neuroprotektif yang dapat menggantikan terapi reperfusi. Namun, beberapa agen masih berpotensi berperan sebagai terapi adjuvan apabila digunakan secara tepat berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia dan dikombinasikan dengan tata laksana stroke yang komprehensif.

Kedua materi tersebut memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai penanganan penyakit serebrovaskular, mulai dari pentingnya mengenali kelainan vaskular kongenital melalui diagnosis neuroimaging yang akurat hingga strategi mempertahankan viabilitas neuron pada pasien stroke. Pendekatan ini menegaskan bahwa kemajuan tata laksana neurologi tidak hanya bergantung pada teknologi diagnostik dan terapi reperfusi, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap mekanisme penyakit serta penerapan terapi berbasis bukti yang berorientasi pada luaran klinis pasien.

Diskusi yang berlangsung setelah sesi pemaparan menunjukkan antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai interpretasi temuan neuroimaging pada kelainan vaskular serebral, indikasi tindakan pada DVA, hingga peluang pengembangan terapi neuroproteksi dalam praktik klinis di Indonesia. Interaksi aktif antara narasumber dan peserta menciptakan suasana ilmiah yang dinamis sekaligus memperkaya wawasan klinis seluruh peserta.

Salah seorang peserta, dr. Octa Pernadi dari Riau, menyampaikan bahwa simposium ini menghadirkan rangkaian materi yang sangat menarik dan memperkaya wawasan klinis. Menurutnya, pembahasan mengenai Developmental Venous Anomaly memberikan pemahaman baru tentang pentingnya diagnosis neurovaskular yang tepat, sementara materi mengenai neuroproteksi pada stroke semakin memperjelas peran dan implementasinya dalam praktik klinis saat ini. Ia juga mengapresiasi kualitas penyelenggaraan simposium serta penyampaian materi oleh para narasumber yang dinilai informatif, aplikatif, dan memotivasi peserta untuk terus memperbarui ilmu pengetahuan di bidang neurologi.

Penyelenggaraan Simposium Cerebrovascular dalam rangkaian JogjaCLAN 2026 juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penguatan kompetensi tenaga kesehatan dan penyelenggaraan pendidikan kedokteran berkelanjutan, kegiatan ini berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education). Pembaruan pengetahuan mengenai diagnosis neurovaskular dan tata laksana stroke berbasis bukti juga mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Selain itu, kolaborasi antara akademisi, klinisi, organisasi profesi, dan institusi kesehatan dari berbagai daerah mencerminkan implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam memperkuat pengembangan ilmu neurologi di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan Simposium Cerebrovascular JogjaCLAN 2026, Departemen Neurologi FK-KMK UGM kembali menegaskan komitmennya sebagai forum ilmiah yang mendukung pengembangan ilmu neurologi berbasis bukti. Penyebarluasan pengetahuan mengenai diagnosis neurovaskular serta perkembangan strategi tata laksana stroke diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan mendorong pelayanan neurologi yang lebih berkualitas, komprehensif, serta berpusat pada pasien.

 

Penulis: Muhammad Rafi S.

Editor: Bardatin Lutfi Aifa

Dokumentasi: Dwi Ayu Lestari

Click Here
Click Here
Click Here